[Pak Harto] Soeharto Kecil

Menulis tentang mantan penguasa orde baru (1966-1998) harus diakui adalah sulit. Selain sosok Pak Harto yang begitu kompleks, juga kebingungan penulis harus memulai dari mana. Biasanya tulisan tentang biografi seseorang dimulai dari masa kanak-kanaknya, masa remaja, dan seterusnya.

Inilah yang sulit, selain faktor pengetahuan penulis secara objektif baru dimulai tahun 1992. Dimana saat itu penulis masih duduk di kelas 1 tingkat sekolah dasar. Jauh sebelumnya mungkin penulis boleh dikatakan masih bayi secara pandangan politik (baca: buta politik), pun untuk memahami bahwa dirinya lahir di sebuah negeri bernama Indonesia. Oleh karenanya bahasan sebelum tahun itu lebih berlandaskan pada kajian literatur.

Sebelum lebih lanjut, tulisan ini akan dibagi dalam beberapa edisi. Edisi pertama, terkait kehidupan pribadinya. Tanpa memasukkan pandangan politik maupun lainnya. Lebih sebagai pendekatan personal saja dan latar belakang pendidikan Pak Harto. Edisi selanjutnya mengenai karir militer dan pemerintahan, sedangkan edisi terakhir lebih mengenai berbagai pandangan mengenai sosok Pak Harto sebagai pelengkap pandangan. Harapannya di akhir tulisan ini kita mendapati Pak Harto sebagai sosok utuh, bukan hanya mengkritisinya tanpa pernah tahu Soeharto dari berbagai sisi. Selamat membaca! Kritik dan saran silakan YM penulis: rijal_razaq, maupun kolom komentar di akhir setiap tulisan.

SOEHARTO KECIL

Lahir di Kemusuk, Argomulyo, Godean, arah barat dari kota Yogyakarta pada tanggal 8 Juni 1921. Kertosudiro, bapaknya yang memberikan nama Soeharto. Kelahirannya dibantu oleh dukun bersalin (istilah bidan jaman dulu) Mbah Kromodiryo, adik kakeknya, Mbah Kertoirono.

Merupakan anak pertama sekaligus yang terakhir dari pasangan Kertosudiro dan Sukirah. Kertosudiro sendiri sebelumnya telah menduda dengan anak dua. Setelah kelahiran Soeharto, tak lama pasangan ini bercerai. Masing-masing menikah lagi. Sukirah menikah dengan pria bernama Pramono dan melahirkan tujuh orang anak, termasuk diantaranya Probosutedjo anak kedua pasangan ini. Kertosudiro setelah menikah lagi memperoleh empat orang anak.

Mbah Kromo mengajarkan Soeharto berdiri dan berjalan, karena sejak kelahirannya Ibunya sakit. Soeharto kecil sering digendong mbahnya ke sawah, menemani mbahnya mengerjakan sawah, atau ditumpangkan di atas garu.

Setelah agak besar, Soeharto tinggal bersama kakeknya mbah Atmosudiro, Bapak dari Ibunya. Suatu ketika kerbau yang digembalakan Soeharto terperosok di sungai. Dipikirnya, kerbau itu dapat menemukan jalan untuk menyelamatkan diri. Maka, turunlah Ia ke parit mengikuti kerbaunya dari belakang. Hingga di satu titik sungai itu menyempit dan menyebabkan kerbaunya tak bisa maju ataupun mundur. Soeharto menangis, sampai orang suruhan kakeknya menemukannya. Soeharto lega, karena ia dan kerbaunya lolos dari sungai tersebut.

Soeharto masuk sekolah di usia 8 tahun (1929), tetapi sering pindah dikarenakan Ibunya dan Pramono pindah rumah. Akhirnya Soeharto dititipkan di rumah adik perempuan Bapaknya.

Bibi dan pamannya menerima Soeharto selayaknya anak sendiri dan menjadikannya putra tertua, diperlakukan sama dengan anak-anaknya. Soeharto sangat tekun dalam belajar, terlebih pada pelajaran berhitung dan agama. Ia terbilang dibesarkan di lingkungan yang taat beragama.

Ia sering juga diajak pamannya untuk meninjau ke desa-desa, kebetulan pamannya merupakan Mantri Tani. Di beberapa tempat Ia sering mengikuti tanya jawab antara Pak Prawirohardjo dengan para petani. Ini mungkin yang jadi inspirasinya saat memimpin Indonesia di kemudian hari, hal ini diterapkannya ketika menjabat sebagai Presiden dari 1967-1998.

Sore hari sepulang sekolah, Soeharto mengaji di Langgar (istilah sekarang Mushalla) bersama teman-teman sebayanya. Ia aktif juga di kepanduan Hizbul Wathan. Dari sini patriotisme dan nasionalismenya tumbuh.

Bagaimana? Membosankan ya? Break dulu…

About these ads

4 Responses to “[Pak Harto] Soeharto Kecil”


  1. 1 humbahas Februari 10, 2008 pukul 1:57 pm

    lumayan ya ceritanya,,ngomong riywat soeharto dari mana ya,,

  2. 2 bangzenk Februari 10, 2008 pukul 5:12 pm

    @humbahas,
    iya, coba ngomongin dari sisi internal keluarga.. silsilah anak2 Pak Harto dan Bu Tien.. hehehe

  3. 3 Panji ND Juni 7, 2009 pukul 7:19 am

    Cakep juga ceritanya! Kerbonya ada brp ya?

  4. 4 Made Payangan Desember 22, 2011 pukul 12:50 pm

    Kisah masa kecilku hampir sama dg kisah Beliau, kenapa aku gak jadi Presiden ia….


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




Quote of The Day

Just because you can’t do everything doesn’t mean you shouldn’t do something.
(Earl Nightengale)
Visit Zenk's Life

Nyang Gi Baca Cerita

web stats

Kategori Cerita

Cerita Lama

Cerita Stats

  • 554,045 Orang-orang Baik

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: