[Pak Harto] Karir Militer dan Pemerintahan

Sayang sekali, ketika tulisan ini dimuat Pak Harto sudah meninggal. Jadi tulisan saya dapat dipastikan 99% tak akan dibaca si mbah, 1% saya sisakan kali aja arwah si mbah masih mau baca.

Literatur yang saya pakai untuk menulis tulisan kedua ini diambil dari buku Suharto, A Political Biography, Penulis: R. E. Elson, Penerbit: Cambridge University Press, United Kingdom, tahun 2001, Jumlah halaman: x, 389 halaman. Profesor Robert Edward Elson adalah guru besar the School of Asian and International Studies di Universitas Griffith, Brisbane, Australia.

Tahun 1946, Ibu Sukirah meninggal dunia. Soeharto kala itu sudah menjadi tentara Republik (istilah bagi tentara pejuang) dan bertempur menahan agresi belanda I dari Semarang. Soeharto sampai-sampai lupa apa ia sempat hadir di samping Ibunya kala itu atau tidak. Ibunya dikuburkan di Gunung Pale, namun pada tahun 1989 kepada Ramadhan KH dikatakan dikuburkan di kemusuk (Soeharto, Pikiran, Ucapan, dan Tindakan Saya, hlm 17)

Bisa dikatakan secara psikologis, Soeharto kurang dekat dengan ibunya. Selain karena berpindah-pindah dia juga mulai disibukkan dengan keterlibatannya menjadi anggota KNIL (Koninklijk Nederlandsch Indische Leger) atau Angkatan Perang Belanda di Hindia pada usianya yang relatif muda 19 tahun. Usia yang sama dengan Pejuang Khalid bin Walid ketika diangkat menjadi Panglima Pasukan Rasulullah SAW. Tanpa bermaksud membandingkan, hanya ini sebagai rujukan saja. Sekaligus refleksi betapa kaum muda adalah agen-agen perubahan.

Ketika Soeharto dipindahkan ke Cisarua, Bandung. Untuk mendapatkan pendidikan Sersan. Belanda menyerah kepada Jepang (Februari 1942), Soeharto melarikan diri ke Yogyakarta. Dengan bantuan ayah Sudwikatmono (mungkin ya..), Soeharto diterima di kempetai (polisi militer Jepang). Kemudian, pada Oktober 1943 Soeharto masuk menjadi anggota PETA (Pembela Tanah Air).

Jepang kalah dan PETA dibubarkan, membuat Soeharto lari kembali ke Yogyakarta. Kali ini ia mulai terlibat dalam kelompok kaum pergerakan Yogyakarta bersama mahasiswa, aktivis, pejuang dan intelektual di bawah kepemimpinan Dayno, atau lebih dikenal dengan Pathuk di Yogyakarta. Hingga akhirnya Si Mbah (maaf, Soeharto muda) menjadi anggota tentara Republik Indonesia.

Sekilas kehidupan Soeharto tampak biasa saja, dan memang begitu keadaannya. Soeharto lebih banyak dibawa keadaan ketimbang menjadi tonggak perubahan. Ia banyak dimanfaatkan alias dihisap kekuasaan politik (macro politics). Hingga atas kecerdikannya Ia berhasil banyak memanfaatkan keadaan dan membalikkannya menjadi keuntungan baginya.

Sebenarnya lebih tepat judul saya diganti dengan “Karir Militer dan Politik Soeharto”, namun kepalang di seri pertama tulisan saya memberikan judul ini, maka saya mesti konsisten (halah, alesan..).

Lanjut, beberapa peristiwa penting yang tercatat dalam buku tadi adalah:

  1. Keterlibatannya dalam menangkap para perencana “kudeta” pada 3 Juli 1946. Historis lengkapnya bisa saudara-saudara cari sendiri. Kesimpulan dari penulis buku dapat dibaca pada paragraf berikut, sekaligus sikap yang dipertahankan Soeharto dalam masa kepemimpinannya.

    “Pentingnya sikap berjaga-jaga ketika taruhan tinggi dan titik-titik persilangan pendapat tidak jelas, hanya memberikan komitmen ketika pihak yang menang menjadi jelas, keharusan memperliat urat sjaraf di bawah tekanan, kegunaan tetap mempertahankan kepercayaan dan perhatian (favor) dari dua kekuatan yang bertikai sampai saat paling akhir. Memang persis, sifat-sifat yang menjadi sesuatu yang khas dirinya kelak di kemudian hari sudah mulai tampak: kehati-hatian, dingin, ketegasan mengambil keputusan dengan penuh perhitungan ketika tiba saatnya”. (hlm 20)

  2. Keterlibatan Soeharto pada Serangan Umum Satu Maret 1949, dimana bukan saja karena keterlibatannya melainkan karena bisa-bisanya Soeharto menghembuskan tingkat peranannya dalam serangan umum ini. Hehe.. (Pada masa OrBa ini banyak dipertentangkan).

  3. Terakhir dan tak kalah penting adalah Gerakan Tiga Puluh September 1965. Inilah bagian penting yang membawa Soeharto ke atas panggung kepemimpinan RI. Posisi Soeharto kala itu aman, karena dia bukan agen khusus (mata-mata) sehingga tidak bisa disalahkan atas informasi yang ia ketahui, juga bukan termasuk komplotan PKI meski sempat dikatakan pada buku “Simpang Jalan 1966″. Mohon maaf, buku itu saya lupa persis judul dan pengarangnya.

Dengan tiga peristiwa di atas, Soeharto kesimpulannya masih sama dan bahkan dibenarkan oleh si pengarang buku. “Suharto was both an extraordinarily complex and extraordinarily simple man” (hlm 297).

Bertolak belakang dengan karangan Prof. R.E. Elson, dalam tuturannya membandingkan Soeharto dengan Soekarno, Hatta, Sjahrir, maupun Jenderal Ahmad Yani, yang banyak menghabiskan waktu dengan membaca buku di masa mudanya, maupun kemampuan bahasa serta interaksi sosial tokoh-tokoh yang barusan saya sebutkan. Soeharto termasuk yang kurang begitu nasionalis ataupun pejuang kemerdekaan, hanya mungkin posisinya saja yang beruntung kalau tidak disebut cerdik memanfaatkan situasi.

Ya, saya kira sudah saatnya saya untuk break. Terima kasih bagi para pembaca budiman yang telah mau membaca sampai tamat tulisan terbaru tentang Soeharto, Karir Militer dan Pemerintahan Awal Politik-nya. Semoga tak sia-sia.

Woerden, 6 Februari 2008

About these ads

1 Response to “[Pak Harto] Karir Militer dan Pemerintahan”



  1. 1 Cerita Fatwa MUI: Golput Haram « Berbagi Cerita.. Lacak balik pada Januari 29, 2009 pukul 5:57 am

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




Quote of The Day

Just because you can’t do everything doesn’t mean you shouldn’t do something.
(Earl Nightengale)
Visit Zenk's Life

Nyang Gi Baca Cerita

web stats

Kategori Cerita

Cerita Lama

Cerita Stats

  • 542,208 Orang-orang Baik

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: