Kalau bukan setetes tinta
Takkan ku gubah sebait puisi
Kalau bukan karena cinta
Takkan aku ada disini
Cantik kerudung putri melayu
Merangkai bunga di atas nampan
Kalau ingin Indonesia maju
Pilih PKS nomor delapan
(Tifatul Sembiring)
be a better man, for a better destination
Kalau bukan setetes tinta
Takkan ku gubah sebait puisi
Kalau bukan karena cinta
Takkan aku ada disini
Cantik kerudung putri melayu
Merangkai bunga di atas nampan
Kalau ingin Indonesia maju
Pilih PKS nomor delapan
(Tifatul Sembiring)

sebelum kehilangan lagi
kusapa matahari di Sembalun
merasakan hangat sentuhannya
meredakan badai puncak
dataran
hujan menutur sepi
melewati batas-batas ingatan
membawa ingatan jauh
jauh ke atas puncak
ketika hening pagi
pergelutan rembulan dan mentari
Enschede-Utrecht, 7 Desember 2007
*oleh: Ahmad Rodjuli
Selama ini di Negerimu
oleh: Mustofa Bisri
selama ini di negerimu
manusia tak punya tempat
kecuali di pinggir-pinggir sejarah yang mampat
inilah negeri paling aneh
dimana keserakahan dimapankan
kekuasaan dikerucutkan
kemunafikan dibudayakan
telinga-telinga disumbat harta dan martabat
mulut-mulut dibungkam iming-iming dan ancaman
Ust. Rahmat Abdullah
namamu selalu membuatku menerawang jauh
mengurai kenangan
tentang dirimu membuatku tak kuasa menahan airmata
mengalir setetes demi setetes
aku mencintaimu ustad, hanya karena Allah saja.
Bisikan Musim Gugur
Dimensi kata hati tak selamanya bundar Mengikis berpacu tanah-tanah berbatu menyusuri lembah Penadah resah seakan terpaku, terlumpuhkan sendi haru Ada bias mentari di balik awan hujan musim gugur Mempertanyakan langit yang biru
Dan ayuhan sepeda membawaku pada bayangan senja Menutupi luka hari-hari, merasuki sedalam hening
Seberkas dari badai semalam, menimpuki kehadiran pagi Di balik tirai yang mendua jadi bisu Ketiadaan waktu, keblingsatan hari-hari menggapai pelangi
Berlari menyusuri setiap serpihan terberai Dari tikungan hingga angan yang beranjak berderang, di tepi kawah Gejolak padu mendendangkan ke sana
Melagukan hangat balutan rindu tatapanNya.
Vlissingen dalam tertatih, menapaki stage-2
Kutulis Sajak Ini dalam kesendirian pagi
Mungkin siang
Mungkin terik
Menatap lembaran kosong tempat ku meludah
Menumpahkan semangkuk kebingungan
tentang ongkos jahit mulutku yang kumal Lanjutkan membaca ‘Kutulis Sajak Ini’
Cerita Pembaca