Hidup Sederhana, Bukan Hidup Miskin

“sayang, aku tak bisa berjanji akan membuatmu hidup penuh dengan kegelimangan harta. Aku hanya menawarkan hidup sederhana, dengan segudang cita dan semangat yang kupunya. Semoga itu dapat membahagiakan kita, setidaknya anak-anak kita bisa belajar dari pilihan-pilihan hidup yang kita ambil”

Sesaat saya terdiam, merenungi kata yang kurangkai sendiri. Kata-kata ini memang belum menemukan pelabuhan yang resmi lagi, pelabuhan yang mengikat biduk cinta dan pengharapan. Tapi, aku masih menantikan ia hadir di akhir pendakian gunung besar saat ini.

Sejatinya, hidup ini adalah serangkaian pilihan. Itulah yang dulu tertanam dan sampai saat ini membuat saya dewasa. Bukan sebagai apologi atas segala pilihan yang dinilai salah oleh orang-orang. Menjadi Diri Sendiri adalah sesuatu yang terkadang bagi sebagian besar orang sulit, termasuk saya.

Sekian gunung mengajarkan saya untuk pandai-pandai memilih jalan. Ya, ini salah satu hikmah masuk PHIPETALA yang tidak tertulis kemarin. Selain itu, memilih jalan terkait juga dengan pengharapan. Antara ingin dan tidak ingin, juga antara tujuan dan proses pencapaian. Karena kebahagiaan bukan sekedar akhir dari tujuan, melainkan juga prosesnya. Ya, filosofi yang ini memang terkait filosofi telur-ayam. Tapi, begitulah. Kita harus memilih untuk memandang dari telur, atau dari ayam dulu. Kita mau memandang dari kali pertama yang mana, sehingga kita bisa mengatakan yang ini proses dan yang lainnya tujuan.

Belajar bersyukur dengan sekian nikmat yang Allah SWT berikan di kehidupan kita, semestinya membuat kita makin awas. Ya, namanya belajar mestilah ada nuansa jatuh-bangun. Kali ini saya ingin mengajak calon pendamping saya lebih memahami, bahwa hidup tak selamanya berjalan seperti yang terkira.

Peristiwa masa lalu, pun termasuk peristiwa yang saat ini (kuliah ke Belanda). Mengajak saya untuk lebih awas, terhadap segala HTAG (halangan, tantangan, ancaman dan gangguan) yang tidak pernah berhenti menggoda. Sejujurnya saya mudah tergoda, saya tahu dimana saya lemah, saya berusaha untuk tidak terkalahkan (lagi). Bismillah..

Lanjut, maka hidup sederhana yang dibangun bukan berarti menyengsarakan diri. Bedakan, hidup sederhana bukan berarti miskin. Semangatnya adalah semangat memenuhi kebutuhan diri, bukan keinginan. Kalaupun ada lebihnya itu hak orang lain.

Maka, kita coba sekarang. 18 juta rupiah ini sebagai awal perjalanan hidup kita membangun mimpi. Meski dengan begitu artinya, saya harus ekstra keras dan cerdas untuk bisa bertahan hidup di negeri ini dan untuk membeli tiket pulang ke mimpi kita. Sekali lagi, bismillah.. Allah Maha Tahu, kita bisa.

3 Responses to “Hidup Sederhana, Bukan Hidup Miskin”


  1. 1 Farrel Januari 28, 2009 pukul 3:50 am

    Kadang manusia lebih mementingkan keinginannya daripada kebutuhannya…
    *huuuuhhhhh*

  2. 2 bangzenk Januari 28, 2009 pukul 4:10 am

    kadang juga manusia gak bisa membedakan mana kebutuhan dan keinginan..😀

  3. 3 kasdin Oktober 30, 2012 pukul 4:58 am

    aku juga mau sederhana aja….


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




Quote of The Day

Just because you can’t do everything doesn’t mean you shouldn’t do something.
(Earl Nightengale)
Visit Zenk's Life

Nyang Gi Baca Cerita

web stats

Kategori Cerita

Cerita Lama

Cerita Stats

  • 636,832 Orang-orang Baik

%d blogger menyukai ini: