Bunda, maafkan anakmu..

Yang paling aku tak tahan adalah melihat bunda menangis karena kesalahanku. Seingatku, dua kali aku membuatnya menangis. Dan keduanya sangat-sangat aku sesali.

Parahnya di hari Ibu kemarin, entah kenapa telepon via internet ke rumah ga nyambung2. Tambah bête, tapi tak apalah, semoga postingan ini menebus kerinduanku pada bunda.

Ibu, selama ini aku tak begitu memperhatikanmu.. betapa keriput di wajahmu bertambah seiring bertambahnya kenakalanku dari masa ke masa. Rautmu tak pernah berubah untuk menatap setiap raut wajahku yang kadang meledak-ledak ketika berbicara denganmu.

Ibu selama ini aku tak begitu menyadari.. betapa cintamu padaku begitu besar, lebih besar dari pacar-pacarku di masa lalu. Bahkan, jauh pengertian daripada wanita yang pernah menjadi pendamping hidupku. Hingga akhirnya aku mengerti, semua yang kauberi adalah cintamu yang tak mungkin kubalas. Meski dengan goresan karya dan pengabdian seumur hidupku.

Bila mengingatmu, aku tak sanggup untuk tak menangis. Dengan berat kelahiranku, semestinya aku sadar bahwa Sembilan bulan engkau bawa aku kemana engkau berjalan. Sungguh, itu sangat memberatkanmu. Tapi, sampai hari ini engkau tak pernah menagihku untuk membalas itu.

Kata-kata kemarahanmu membuatku merinding, karena memang hanya engkaulah manusia yang pernah melahirkanku ke dunia ini. Maafkan aku Bunda..

Karena kebajinganku telah membuatmu menangis di beberapa bulan ke belakang. Di masa yang seharusnya aku bisa menjadi kebanggaanmu sebagai seorang putra. Dan waktu tak mungkin berulang, seperti sesal ini yang takan pernah hilang. Aku sadar betul engkau adalah wanita tegar. Setegar ketika engkau melahirkanku, meski bapak tak ada di sisi Ibu kala itu. Kutahu bapak pun menyesal karena dating terlambat. Tapi, aku tahu juga bapak berusaha untuk hadir di sisimu. Meski harus berjalan kiloanmeter di tengah hutan yang selama 3 tahun kemarin jadi tempat aku menuntut ilmu.

Kalau saja aku tahu bagaimana membalas semua jasamu, aku ingin sisa umurku ini bisa membahagiakanmu. Aku tak ingin melihatmu menangis lagi. Aku tak ingin buatmu menyesal telah melahirkanku ke dunia. Aku mencintaimu, bahkan lebih dari cintaku pada hidup ini. Aku rela mati, demi ridhomu atas kehadiranku.

Sekarang, jauh jarak aku darimu. Tapi ketahuilah, hadirmu begitu dekat di hatiku. Di hari-hari aku sendiri, engkau jadi semangat untuk aku bertahan dan tidak mengeluh. Seperti engkau yang tak pernah mengeluh membawaku dalam rahimmu, menetekku selama sekian bulan, padahal berat kelahiranku itu..

Bunda, aku mencintaimu. Ijinkan aku menjadi anakmu.. meski kusadari, aku terlalu bajingan untuk menjadi seorang manusia. Selamat hari Ibu.

Vlissingen, dalam harap kudapat mendekapmu erat..

3 Responses to “Bunda, maafkan anakmu..”


  1. 1 goyangan Desember 24, 2007 pukul 4:45 pm

    kasih ibu sepanjang jalan, kasih anak sepanjang galah

  2. 2 rijalulghad Desember 24, 2007 pukul 5:49 pm

    @goyangan
    sepakat bos,, hiks3😦

  3. 3 Reorid Desember 27, 2007 pukul 8:50 am

    Surga berada di telapak kaki ibu.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




Quote of The Day

Just because you can’t do everything doesn’t mean you shouldn’t do something.
(Earl Nightengale)
Visit Zenk's Life

Nyang Gi Baca Cerita

web stats

Kategori Cerita

Cerita Lama

Cerita Stats

  • 636,712 Orang-orang Baik

%d blogger menyukai ini: