Pemekaran dan Kesejahteraan

Pertama maafkan jika akhir-akhir ini tema politik banyak diangkat di sini, dunia politik Indonesia jarang sekali diangkat oleh para blogger Indonesia. Entah sarat konspirasi atau lainnya, tapi penulis menganggap ini merupakan bagian tak terpisahkan dari kehidupan berbangsa dan bernegara. Suka atau tidak suka, mengajak kepala kita memanas dan darah kita mendidih.

Repotnya memberikan pandangan politik terkadang sukar untuk tidak berafiliasi, meskipun demikian penulis berusaha bersikap netral dan jujur. Arti netral di sini lebih ditekankan pada kata hati, tentunya tidak sekedar berpihak pada rakyat dalam menyoroti kebijakan pemerintah tapi juga berpegang pada nilai-nilai kebenaran hakiki.

Teori relativitas kadang menjamah sisi kebenaran, tapi kebenaran hati nurani tak dapat disamakan dengan teori relativitas manapun. Mutlak.

Dua hal yang menarik saat ini untuk dikemukakan adalah mengenai pemekaran provinsi Aceh dan Papua yang sudah dalam tahap RUU dan akan dibahas di Komisi II DPR RI, juga permasalahan kesejahteraan rakyat.

Bila ditelaah lebih lanjut didasari dengan agenda reformasi, otonomi daerah merupakan sesuatu yang harus. Dengan adanya amandemen UUD 1945, UU tentang pemerintah daerah semakin lengkap. Tapi, sadarkah kita akan adanya perpecahan dan tajamnya pertikaian di kalangan masyarakat bawah? Jika Yusril Ihza Mahendra (YIM) mengatakan dalam tulisannya Praktik Ketatanegaraan Kita ke Depan,

Ketentuan mengenai pemilihan kepala daerah ada baiknya juga dikaji ulang untuk mencegah politik biaya tinggi, yang dapat membawa implikasi terjadinya korupsi, kolusi dan nepotisme di daerah. Seringnya Pilkada, baik gubernur, bupati/Walikota, bahkan sampai pada pemilihan kepala desa dan kepala dusun, disamping berpotensi menimbulkan instabilitas politik di daerah, juga dapat memalingkan perhatian rakyat dari pembangunan sosial ekonomi ke bidang politik. Telaah tentang hal ini pada akhirnya akan membawa kita kepada perdebatan yang muncul di awal reformasi, yakni apakah otonomi daerah itu diberikan kepada kabupaten/kota atau kepada provinsi. Setelah sepuluh tahun reformasi, ada baiknya kita merenungkan kembali hubungan pemerintah pusat dan daerah dalam suasana yang lebih jernih.

Boleh dikatakan pandangan penulis selaras, perlu adanya renungan yang jernih. Bilamana dahulu di awal era reformasi banyak perdebatan tentang pemerataan hasil pembangunan dan sebagainya, sekarang saatnya kita merenung. Toh harus kita akui, saat ini muncul raja-raja kecil di daerah bernama bupati dan atau walikota. Peran pemerintah provinsi hampir habis. Sehingga jika dikaitkan dengan pemilihan gubernur jawa barat, Solihin GP sempat menyampaikan pendapatnya bahwa pembinaan ke daerah oleh gubernur menjadi sesuatu yang rumit. Karena peran gubernur sebagai kepala daerah tingkat provinsi saat ini sudah jauh berkurang sejak adanya otonomi daerah.

Menjadi kreatif adalah pilihan bagi siapapun gubernur yang terpilih. Tapi bukan sekedar itu, perhatikan kalimat Bang YIM. Perhatian rakyat saat ini banyak teralihkan ke arena pertarungan jagoannya (istilah Iwan Fals), dibandingkan dengan terhadap kondisi pembangunan ekonominya sendiri. Apalagi masalah pendidikan. Bangsa ini masih jauh tertinggal secara daya saing global, Indeks Daya Saing Global negara kita berada di peringkat 54, di ASEAN Indonesia hanya di atas Filipina (71) dan Vietnam (68). Kita tertinggal jauh dibandingkan Singapura (7), Malaysia (21), dan Thailand (28). (sumber: TEMPO berdasarkan kajian BPS, Transparency International, LSI, dll). Angka ini turun sedikit dari tahun 2006, yakni skor 4,26 dengan peringkat yang sama.

Mari kita lebih jeli lagi memandang pemekaran provinsi ini, terlebih di daerah pasca-konflik. Aceh dengan GAM-nya dan Papua dengan GPM-nya. Harapannya DPR tidak hanya memandang ini secara perpolitikan saja sebagaimana yang banyak dipandang para ahli komentator pemerintah. Melainkan memandang ini secara kebutuhan jangka panjang dan menengah. Sudahlah terlalu banyak rakyat kita bergelut dengan harga-harga bahan makanan pokok yang melambung tinggi dan tak pernah turun, jangan lagi kita disibukkan dengan kepentingan politik kedaerahan semata.

Rakyat ini butuh pendidikan yang bukan sekedar umpama dan pembagian kekuasaan. Tapi kinerja dan kesungguhan. Gaji DPR RI setahun yang rutin itu di atas 554 juta. Itu yang rutin saudara-saudara. Lengkapnya sialakan klik angka tadi.

Menarik memang. Sekali lagi maaf, jika wejangan kali ini cukup membuat dahi saudara-saudara budiman berkerut.

4 Responses to “Pemekaran dan Kesejahteraan”


  1. 1 Pan Mohamad Faiz Januari 25, 2008 pukul 1:03 pm

    Salam kenal kembali Bang Rijal,

    Semoga silaturahmi kita bisa terus dijalin walaupun daratan dan samudera saat ini memisahkan kita.

    Wassalam,
    PMF

  2. 2 rijalulghad Januari 25, 2008 pukul 10:50 pm

    @Pan Mohamad Faiz
    insya Allah, Bang. India kan ga’ jauh-jauh amat dari Belanda (hohohho..)

    Mohon dikomentari, Bang. Sekaligus ijin belajar hukum.. Oiya, klo boleh di link, yang mana alamatnya? Kalau ada yang Bahasa Indonesia, demi kemudahan pembaca blog ini yang mayoritas menggunakan Bahasa Indonesia. Terima kasih.

    salamhangat,
    ~dari Belanda

  3. 3 Pan Mohamad Faiz Januari 26, 2008 pukul 9:57 am

    Sekarang Bang Rijal di Belanda sebelah mana? Kalau saya kebetulan sedang ke sana, boleh kan saya kabari.

    Silahkan yang mana saja, tetapi jika ingin yang berbahasa Indonesia saja, bisa dilink di alamat Jurnal Hukum (http://jurnalhukum.blogspot.com).

    Terima kasih atas tanggapan baliknya di kolom YIM. Saya sangat mengapresiasinya.

    Jabat Erat,
    PMF

  4. 4 rijalulghad Januari 26, 2008 pukul 11:31 am

    @PMF
    Insya Allah, silakan2.. saat ini di kampung Vlissingen, mulai Februari sampai Juli beranjak ke kota Eindhoven (workplacement).

    insya Allah di link. makasih sebelumnya.

    tanggapan itu biasa saja, Bang Faiz yang luar biasa.. saya harus belajar banyak..

    erat jabat,
    -rijal-


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




Quote of The Day

Just because you can’t do everything doesn’t mean you shouldn’t do something.
(Earl Nightengale)
Visit Zenk's Life

Nyang Gi Baca Cerita

web stats

Kategori Cerita

Cerita Lama

Cerita Stats

  • 636,832 Orang-orang Baik

%d blogger menyukai ini: