Anjing Benar PEMDA DKI!!!

mohon maaf kalo tulisan diatas bersifat provokatif. tapi silakan baca tulisan dari blog sebelah yang saya comot tanpa ijin.
namun demikian, melalui tulisan ini saya mohon ijin. demi kebaikan bersama..

Wednesday, February 27, 2008
Posted 6:33 PM by wahyu.dhyatmika
Siapa Untung di Rawasari

Warga hanya diberi waktu dua bulan sebelum digusur. Ada kepentingan komersial, sudah kadung teken kontrak.

SAHAT Saragih menyemprot semaunya. ”Biarin! Tulis saja semua! Gua kagak takut!” katanya. Tak jauh dari situ, istrinya meraung marah. Rabu pekan lalu, keluarga pedagang keramik di Rawasari, Jakarta Pusat, itu memang sedang naik pitam.

Tiga ratusan petugas ketertiban Pemerintah Daerah Khusus Ibukota Jakarta baru saja menutup paksa kios darurat yang dibangunnya di atas trotoar Jalan Ahmad Yani, tepat di bawah jalan layang. Saat situasi memanas, bentrokan pecah. Istri dan anak Saragih lecet-lecet didorong petugas. Belasan keramik jualannya pecah berhamburan.

Penggusuran itu adalah yang kedua untuk Saragih dan 84 penjual keramik lainnya di Rawasari. Sepekan sebelumnya, pada Ahad 10 Februari, lima ratusan polisi pamong praja Pemda DKI Jakarta membongkar habis kios-kios permanen mereka di sepanjang Jalan Ahmad Yani.

Para pedagang hanya termangu ketika mesin backhoe merobohkan pasar keramik yang sudah membiak sepanjang tiga dekade itu. ”Saya berjualan di situ sejak 1978,” Saragih mengenang ketika sudah sedikit tenang.

Selain puluhan pedagang keramik, ada 59 kepala keluarga yang rumahnya juga ikut digusur. Nasib mereka kini tak menentu. Sutoto, Ketua RT 16/RW 9, mengaku warganya kini hidup menyebar di kos-kosan dan rumah kontrakan. Bahkan ada keluarga yang sempat mengungsi ke Pasar Rawasari.

Empat hari setelah penggusuran, salah satu korban penggusuran, Yustini, 45 tahun, meninggal di Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo, Jakarta. ”Darah tingginya kumat karena stres,” kata Sutoto, yang juga ikut tergusur.

Sutoto membangun rumahnya di Rawasari pada 1976 dan rutin membayar tagihan listrik dan air bersih. ”Semua warga di sini punya kartu tanda penduduk yang disahkan lurah dan camat,” katanya dengan nada getir. ”Kami bukan penduduk gelap.”

Bagi warga Rawasari, penggusuran dua pekan lalu itu tak ubahnya petir di siang bolong. Mereka pertama kali menerima surat peringatan pembongkaran dari Camat Cempaka Putih pada pertengahan Januari lalu. Surat peringatan kedua melayang sepekan kemudian.

Tak sampai selang sebulan, rumah-rumah warga sudah dirobohkan. Rekomendasi DPRD DKI Jakarta dan Komisi Nasional Hak Asasi Manusia untuk menunda penggusuran sama sekali tidak digubris.

Camat Cempaka Putih, Syamsuddin Lologau, menegaskan, penggusuran itu penting untuk menyediakan ruang terbuka hijau. Sebagai kompensasi, setiap kepala keluarga mendapat ”uang kerohiman” Rp 10 juta.

l l l

WAKIL Ketua Fraksi Partai Keadilan Sejahtera (PKS) DPRD Jakarta, Tubagus Arif, sejak awal sudah mempertanyakan dasar penggusuran. Tubagus menunjuk rencana kegiatan Pemda DKI Jakarta 2007 maupun tahun ini. Di sana sama sekali tidak ada agenda penggusuran kawasan Rawasari.

Karena tidak direncanakan, dana untuk membayar ganti rugi korban penggusuran pun tidak ada dalam Rancangan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah Jakarta 2008. Jadi, dari mana uang kerohiman yang dibagikan kepada korban? ”Itu juga pertanyaan saya,” katanya.

Yang membuat Tubagus makin heran, Rencana Umum Tata Ruang Wilayah Jakarta, yang disahkan Peraturan Daerah Nomor 6/1999, bahkan tak menyebut kawasan Rawasari sebagai ruang terbuka hijau. Kawasan itu hanya akan dijadikan sempadan, badan jalan, serta karya taman umum.

”Kalau taman umum, masih ada toleransi 20 persen untuk bangunan,” kata Tubagus. Artinya, kios-kios keramik Rawasari sebenarnya tak perlu diratakan dengan tanah. Jadi, apa yang membuat Pemda DKI Jakarta terkesan ngotot menggusur Rawasari?

l l l

PERTANYAAN itu seolah terjawab pada awal Februari lalu. Secara kebetulan, warga memperoleh salinan rencana pembangunan sebuah kawasan niaga otomotif di lahan kosong, tepat di belakang pasar keramik Rawasari. Lahan seluas 14 hektare itu adalah tanah negara milik PT Angkasa Pura I.

”Kami memperoleh dokumen itu dari seorang pemilik showroom mobil,” kata Horas Sinaga, kuasa hukum korban penggusuran. Rencana pembangunan itu terdiri dari tujuh halaman. Halaman pertama berjudul ”Master Plan Pusat Showroom dan Onderdil Mobil”, memuat denah rencana pembangunan showroom mobil, kios onderdil, supermarket, dan rumah toko. Total akan ada 16 blok bangunan di sana.

Halaman kedua memuat gambar serupa dengan sejumlah perubahan. Misalnya, jalan yang semula direncanakan membelah kawasan niaga itu dihilangkan. Di sisi utara muncul rencana pembangunan area bengkel dan parkir mobil. Kawasan pertokoan itu direncanakan memiliki dua pintu masuk. Di sisi barat melalui Jalan Pramuka Sari, di sisi timur via Jalan Ahmad Yani, melintasi pasar keramik dan permukiman Rawasari.

Nah, halaman tiga sampai tujuh berisi penawaran skema kredit bagi mereka yang tertarik membeli kios di kawasan niaga mobil ini. Setiap kios berukuran 2,75 x 3 meter dijual Rp 275 juta. Menurut denah, ada 360 kios yang ditawarkan dengan harga setiap kios rata-rata Rp 275 juta.

Di halaman terakhir tertera nama agen properti yang menangani penjualan kios-kios itu: Paddy’s Property, yang beralamat di kompleks Mega Grosir, Cempaka Mas, Jakarta Timur.

Ketika dihubungi Tempo pekan lalu, bos Paddy’s Property, Kertahadian Salim, mengakui memang pernah menangani penjualan pusat showroom mobil dan kios-kios onderdil yang akan dibangun di Rawasari. ”Tapi sekarang tidak lagi,” katanya. ”Nuansa politisnya terlalu besar.”

Kertahadian menjelaskan, lahan di Rawasari sebenarnya sudah dikontrak dari PT Angkasa Pura I dengan sistem Hak Guna Bangunan berjangka waktu 20 tahun. Siapa yang mengontrak? Kertahadian enggan menjawab.

PT Angkasa Pura I membenarkan pernyataan Kertahadian. Ketika dihubungi, akhir pekan lalu, Mariyanto, pelaksana tugas Kepala Biro Hukum pada badan usaha milik negara itu menjelaskan, lahan tidur di Rawasari memang sudah disewakan kepada PT Duta Paramindo Setia sejak Mei 2007.

Kuntadi Budianto, Sekretaris Perusahaan PT Angkasa Pura I, juga mengakui perusahaannya pernah meminta Pemda DKI Jakarta membantu mengamankan tanah itu. ”Tapi kami tak ada urusan dengan penggusuran. Kami hanya minta tanah kami dijaga,” katanya.
Penelusuran Tempo menemukan, PT Duta Paramindo Setia adalah perusahaan kontraktor yang terdaftar di Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Jakarta. Di situs resmi Kadin tercantum nama penanggung jawabnya, Surjatin Njotohardjo. Ketika menandatangani kontrak sewa tanah dengan PT Angkasa Pura I, dia didampingi oleh Rudy Heriyanto.

Kantor Duta Paramindo adalah sebuah rumah jembar di Jalan Cempaka 20, Tomang, Jakarta Barat. Ketika Tempo ke sana pekan lalu, Surjatin dan Rudy tak bisa ditemui. Seorang staf perempuan yang menemui Tempo mengatakan, para bos ”jarang di kantor, karena selalu ada di lapangan”.

Kabar soal rencana pembangunan pusat showroom dekat lahan penggusuran Rawasari membuat korban makin nelangsa. ”Tindakan Pemda sudah melanggar hak asasi manusia,” kata Tubagus Arif. ”Penggusuran itu proyek titipan.”

l l l

WAKIL Gubernur Jakarta Prijanto berusaha menetralisasi keadaan. Di depan wartawan, Selasa dua pekan lalu, dia menjamin tak akan ada pembangunan kawasan komersial di atas lahan Angkasa Pura. ”Di sana hanya akan dibangun rumah susun sederhana,” katanya. Menurut dia, itu permintaan Wakil Presiden Jusuf Kalla dan Menteri Negara Perumahan Rakyat Yusuf Asy’ari.

Namun, akhir pekan lalu, kepada Tempo, Kuntadi Budianto meluruskan pernyataan Prijanto. ”Kami memang akan menyediakan area seluas 8.000 meter persegi untuk rumah susun sederhana,” katanya. Tapi, lahan sisanya, seluas lebih dari 12 hektare, tetap untuk pembangunan pusat showroom mobil. Alasannya, ”Kami sudah kadung teken kontrak.”
Warga korban penggusuran kini tinggal berharap pada pengadilan. Sebuah gugatan diajukan ke Pengadilan Tata Usaha Negara Jakarta, mempertanyakan keabsahan penggusuran Rawasari.

Kamis pekan lalu adalah jadwal sidang perdananya. Sayangnya, satu-satunya tergugat, Camat Syamsuddin Lologau, tak muncul. Ketika dihubungi Tempo, Jumat pekan lalu, dia tak bersedia diwawancarai. ”Saya sedang rapat,” katanya terburu-buru.

Wahyu Dhyatmika, Mustafa Silalahi, Anton Aprianto


0 Responses to “Anjing Benar PEMDA DKI!!!”



  1. Tinggalkan sebuah Komentar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




Quote of The Day

Just because you can’t do everything doesn’t mean you shouldn’t do something.
(Earl Nightengale)
Visit Zenk's Life

Nyang Gi Baca Cerita

web stats

Kategori Cerita

Cerita Lama

Cerita Stats

  • 637,137 Orang-orang Baik

%d blogger menyukai ini: