Insiden Atmajaya: Siapa bertanggung jawab?

Kerusuhan lagi-lagi terjadi, kali ini di depan gerbang kampus UNIKA Atmajaya dan di di depan gedung DPR-RI. Kalo sudah begini siapa yang mau bertanggung jawab? Kendaraan dinas kementrian riset dan teknologi menjadi salahsatu korban amuk massa pada aksi menolak kenaikan harga BBM kemarin.

Sedih, jujur aye pribadi sedih. Terlebih setelah ada kabar mengenai meninggalnya sdr. Maftuh (mahasiswa UNAS) yang bolehjadi akibat pemukulan yang dilakukan oknum polisi. Kebetulan dia mengidap penyakit melemahnya kekebalan tubuh (HIV/AIDS), sehingga sulit untuk melakukan pertolongan.

Insiden atmajaya, menjadi sebuah catatan panjang tentang beragam hal. Kalo mas Arul beberapa waktu lalu menuliskan mahasiswa dipandang sebelah mata. Rasa-rasanya kian terkaburkan saja masyarakat akan memandang peran mahasiswa sebagai insan perubahan dan generasi harapan.

Kenaikan harga BBM memang masih menyisakan kemelut, dalam hal ini dituntut keseriusan dan keterbukaan pemerintah. Tanpa bermaksud terus menerus menyalahkan pemerintah, namun bagaimanapun Indonesia saat dibawah kepemimpinan Mas SBY dan Mas JK. Segala kebijakan yang menjadi petaka rakyat banyak tentu tak lain adalah juga tanggung jawab dua Mas-Mas tadi.

Keseriusan pemerintah semestinya bisa terlihat dalam upaya penghematan anggaran pembelanjaan negara untuk kegiatan tak penting, terutama perjalanan dinas para pejabat ke luar negeri. Baik dari tingkat rt-rw maupun tingkat menteri ataupun anggota dewan yang mentereng. Juga kegiatan seremonial seperti Indonesia Bisa, yang lebih terkesan sebagai ajang nostalgia Mas SBY dengan para anakbuahnya. Sedangkan di sisi lain masih terdengar jeritan Daeng Basse yang mati menahan lapar, karena untuk membeli beras saja mereka tak mampu.

Lantas apakah salah jika kami kecewa padamu, Mas? Sekali lagi kami tidak ingin menyalahkan Mas, kami coba menawarkan solusi. Tapi telinga Mas masih terlampau jauh dari jeritan kami, kecuali penasihat Mas yang sekali nyahut langsung didengar. Maklum kami memang bukan ‘orang dekat’ Mas-mas. Kalo Munarman berani menepati janjinya, mana janji Mas? Harga BBM tetep naek, harga pendidikan juga ikut naik, sedangkan PHK dimana-mana. Bohong itu prosentase kemiskinan berkurang, kecuali benar banyak orang miskin mati kelaparan. Beratus-ribu orang berprofesi pengemis, sebuah pekerjaan yang jauh dari semangat “bersama kita bisa” dulu yang Mas-mas tawarkan jaman kampanye.

Sudah saatnya Mas-mas lebih peka, menjadi Presiden dan Wakil Presiden Indonesia itu mudah.

di negara demokrasi seorang presiden atau perdana menteri memerintah atau menjalankan kekuasaannya berdasarkan undang-undang (rule by laws). Dan undang-undang tersebut sebagian besar sudah ada tersedia semuanya. Jadi aturan dan koridor-koridornya untuk menjalankan pemerintahan sudah jelas! Bahkan juga para pembantu, penasehat, dan anggarannya, termasuk anggaran untuk dirinya!

Sehingga yang diperlukan oleh seorang presiden hanyalah pengetahuan terhadap semua undang-undang tersebut (dan semuanya ini bisa dibaca) dan kemudian menjalankannya dengan penuh ikhlas, tulus, dan lurus! Pertama, ikhlas, artinya menjalankan undang-undang tersebut tanpa pamrih. Kedua, tulus artinya semata-mata bekerja untuk rakyat, bangsa dan negara. Jangan pernah berpikir akan memperkaya diri dan keluarganya. Singkatnya lebih baik dikatakan pelit oleh saudara atau temannya sendiri daripada melanggar undang-undang. Dan ketiga, lurus, artinya patuh pada teks dan semangat undang-undang serta tidak coba-coba menipu, melanggar, dan mencederai undang-undang tersebut. Betapa sangat sederhananya! Menjadi kompleks dan tidak sederhana karena tidak ikhlas, tidak tulus, dan tidak lurus!

(Hajriyanto, Anggota DPR-RI dari Fraksi Golkar)

Mas mesti sadar, mas terpilih karena dipilih. Bukan tiba-tiba menjadi Presiden dan Wapres begitu saja. Selama ada jeritan kelaparan, maka di sana keseriusan Mas-mas kami nilai kurang. Maafkan kami, jika kemudian terkesan menyalahkan.

Mahasiswa dan pergerakannya akan selalu hidup. Karena kelangsungan nafas bangsa ini ada di tangan mahasiswa. Meski dua insiden terakhir (di sekitar kampus UNAS dan Atmajaya) sungguh mencoreng orisinalitas dan idealisme mahasiswa sebagai insan intektual. Sungguhpun apa yang dilakukan dengan tujuan yang baik namun melalui cara yang salah tetaplah salah. Tidak ada pembenaran bahwa suatu aksi harus anarkis, bakar membakar atau lempar batu. Penyaluran aspirasi melalui jalan demonstrasi tentu ada konsekuensi, yakni tetap menjaga ketertiban dan keamanan. Terlebih kawan-kawan berada di ruang publik. Tidak mungkin kita bangun moral bangsa Indonesia dengan moralitas buruk yang kita pertontonkan di hadapan masyarakat. Jika sudah begini, kita tidak bisa dinilai lebih baik daripada pemerintah yang arogan.

Kepolisian juga dituntut lebih tegas dan mawas diri. Emosi jangan dibawa ke tempat bertugas, perlu latihan kesabaran dalam pelayanan. Mahasiswa dan masyarakat tak membenci kawan-kawan di kepolisian, mereka hanya tak sudi jika Polisi harus berpihak pada arogansi pemerintah. Polisi mesti bisa bersikap kooperatif, ke depankan para perwira ahli negosiasi untuk berdiskusi dengan kami. Jangan kawan-kawan samapta yang dilatih untuk mengambil ‘tindakan’, tanpa banyak bicara. Kemudian sikap adil dan berimbang tetap perlu diusung. Contoh kasus Insiden di UNAS, berikan ‘tindakan’ pada para oknum yang tidak bertanggung jawab di tubuh kepolisian. Kasus Insiden di Silang Monas, tunjukkan bahwa hukum berlaku bagi setiap warga negara. Tangkap oknum-oknum dibalik aksi AKKBB, mereka juga memiliki tanggung jawab atas insiden tersebut.

Masyarakat, jangan mudah terprovokasi oleh media massa. Tugas media memang memberitakan, meski kadang kurang seimbang. Sebagai bagian dari masyarakat, mari kita bersikap lebih cerdas. Semoga Kejuaraan Piala Eropa 2008 tidak sampai hati menghapus ingatan tentang Daeng Basse, dan ‘Daeng Basse’ lainnya.

Bagaimanapun sinergi yang kita perlukan bukan kerusuhan ataupun tindakan kekerasan lainnya.

ditulis oleh: Muhammad Rijal ARS (Ketua BEM POLBAN 2006/2007)

*foto diambil dari detik.com

8 Responses to “Insiden Atmajaya: Siapa bertanggung jawab?”


  1. 1 dhedhi Juni 25, 2008 pukul 7:48 am

    polisinya represif… mahasiswa anarkis…mungkin karena pemerintahnya apatis…

    Emg seharusnya sih ga perlu ada gontok2an gitu. wong mahasiswa juga ngadepin saudara setanah air kok, terus polisi juga ngadepin mahasiswa yang memperjuangin hak rakyat…

    Semoga ga ada korban lagi… semoga warga Indonesia makin dewasa

  2. 2 bangzenk Juni 25, 2008 pukul 7:58 am

    @ dhedhi,
    itu dia kang, selama sinergi belum ada antarelemen bangsa. maka selama itu pula akan tetep gontok2an..
    sinergi itu hanya bisa ada dengan pemahaman yang sama

    iya, semoga tidak memakan korban (lagi).
    terima kasih sudah mampir kang.

    salamhangat.

  3. 3 arifrahmanlubis Juni 26, 2008 pukul 6:50 am

    bangzenk, salam hangat saya untuk anda.

    untuk media : berita buruk adalah berita baik.

    kenyataannya sekarang, janji2 yang tidak ditepati ini terlalu sulit untuk dicerna masyarakat jika hanya ditampilkan media lewat dialog2 dan perang wacana para pakar.

    idealnya tugas mahasiswa menstimulus masayarakat untuk beraspirasi dan mengatakan tidak untuk kegagalan dan kebohongan2 selama ini. dengan turun langsung ke masayarakat dan memberikan stimulus dan pencerdasan. sehingga nantinya masyrakat yg bungkam dan menderita, dapat mengeluarkan unek-uneknya.

    mereka yang akan dialog. mereka yang akan menggugat.mereka yang akan berdemo damai. mahasiswa cukup mendampingi saja.

    kita juga menyesalkan dan sedih atas anarkisme oleh mahasiswa. pemerintah jangan sekedar menangkapi, tapi juga bisa mencabut sampai akar pemicu-pemicu anarkisme ini. bisa jadi ada unsur kekerasan polisi, bisa jadi dari pemerintah sendiri, bisa jadi dari yg mengaku tokoh bangsa tapi ucapannya penuh provokasi.

    wallahualam

  4. 4 bangzenk Juni 26, 2008 pukul 9:48 am

    untuk media : berita buruk adalah berita baik

    itulah mengapa kita mesti bisa menguasai media, paling tidak memiliki media sendiri atau memiliki hubungan dekat dengan media.

    mohon maaf jika saya ambil contoh salahsatu partai (PKS) yang memiliki kinerja cukup baik dan cepat tanggap terhadap hal-hal menyangkut masayarakat (bencana alam, banjir, kesehatan, pendidikan, dll) tapi tidak mendapat liputan yang sepadan dari media dalam negeri. begitupun ketika anggota dewan dari partai ini yang pesuap pun tak berani memberikan suapnya, di saat yang sama anggota dewan ‘yang biasa’ menerima suap mengembalikan uang suap dan mengundang media untuk meliputnya.

    inilah ketimpangan media, itu juga mengapa saya pada akhirnya memilih nge-blog. harapannya wacana ini membaur bersama masyarakat yang doyan nge-net. sehingga ibarat bola salju, pencerdasan politik itu bisa berlangsung.

    kenyataannya sekarang, janji2 yang tidak ditepati ini terlalu sulit untuk dicerna masyarakat jika hanya ditampilkan media lewat dialog2 dan perang wacana para pakar.

    idealnya tugas mahasiswa menstimulus masayarakat untuk beraspirasi dan mengatakan tidak untuk kegagalan dan kebohongan2 selama ini. dengan turun langsung ke masayarakat dan memberikan stimulus dan pencerdasan. sehingga nantinya masyrakat yg bungkam dan menderita, dapat mengeluarkan unek-uneknya.

    ya, saya sepakat ama bang arif. namun ada masalah lain bang, tidak semua mahasiswa mau ambil peduli terhadap masalah masyarakat. belum lagi dari yang peduli itu juga memiliki amanah dan tanggung jawab yang berlipat. sehingga perlu juga diantaranya peningkatan kesadaran di kalangan mahasiswa sendiri.

    setaun yang lalu ITB punya Dwi A.N. sbg presiden KM, saya cukup salut dengan kepemimpinan beliau. jaman turun ke jalan, persiapan aksi sampai kepada siaran pers, apik. Itu salah satu contoh mahasiswa yang bener-bener mahasiswa. saya rindu masa-masa itu

    berkaitan dengan ‘masyarakat yg bicara’ saya kira malah gakan terlalu ditanggapi. hanya mungkin bisa dijadikan pembenaran atas apa yang diperjuangkan.

    tanggapan terakhir, kita lihat bagaimana sikap pemerintah. karena ada kabar aksi kemarin dibiayai salah satu anggota DPR-RI (sumber ucapan kepala BIN Syamsir S. yg diliput kompas)

    salamhangat kembali, bung!

  5. 5 Yusuf Februari 13, 2009 pukul 3:46 am

    Aku berharap kejadian2 sperti itu terus terjadi biar seru…


  1. 1 Refleksi 5 Pekan Menuju Indonesia « Berbagi Cerita.. Lacak balik pada Juni 27, 2008 pukul 7:52 pm
  2. 2 Peran dai dalam mengusung peradaban « bersama…selamatkan dunia! Lacak balik pada Juli 2, 2008 pukul 10:33 pm
  3. 3 Refleksi 5 Pekan Menuju Indonesia | Zenk Life's Lacak balik pada Juli 17, 2008 pukul 7:00 pm

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




Quote of The Day

Just because you can’t do everything doesn’t mean you shouldn’t do something.
(Earl Nightengale)
Visit Zenk's Life

Nyang Gi Baca Cerita

web stats

Kategori Cerita

Cerita Lama

Cerita Stats

  • 636,832 Orang-orang Baik

%d blogger menyukai ini: