Cerita Turunnya Tarif Telekomunikasi

Cerita Turunnya Tarif Telekomunikasi

Pengguna layanan telekomunikasi nirkabel dari pada periode 2004 – 2008 mengalami lonjakan yang cukup besar. Dari data yang didapat, pengguna layanan telekomunikasi nirkabel pada tahun 2004 hanya sekitar 20 juta dan tahun ini mencapai 126 juta. Diprediksikan tahun depan akan menembus angka 150 juta orang. Artinya, 3 dari 4 orang Indonesia tahun depan diperkirakan akan menggunakan telepon selular sebagai alat komunikasi primernya.

Kenaikan angka pengguna telekomunikasi nirkabel ini tentu dipengaruhi oleh beberapa hal, diantaranya yang paling terlihat adalah akibat turunnya tarif layanan telekomunikasi. Dipelopori XL dengan kartu jempol dan kartu bebas-nya pada tahun 2004 mengawali persaingan tarif murah di kalangan operator layanan telekomunikasi Indonesia.

Cerita ini menjadi menarik, karena bagi operator biaya telekomunikasi dipengaruhi oleh koneksi, biaya, dan daya beli masyarakat, juga aksesbilitas. Lebih jauh, mewujudkan tarif murah dengan biaya komunikasi yang rendah benar-benar menjadi suatu tantangan tersendiri bagi operator layanan telekomunikasi. Didorong pula oleh himbauan pemerintah melalui Menkominfo di pertengahan tahun 2008 lalu untuk menciptakan tarif murah layanan telekomunikasi Indonesia.

Turunnya tarif telekomunikasi tentu memiliki berbagai dampak positif maupun negatif bagi masyarakat sebagai konsumen utama. Baik itu dampak secara sosial maupun secara ekonomi.

Berbagi cerita pandangan pribadi, ada harapan tersendiri dari turunnya tarif telekomunikasi di negeri ini. Tentu harapan positif, dimana dengan turunnya tarif telekomunikasi akan semakin mempermudah akses komunikasi antar keluarga dan masyarakat Indonesia. Sebagaimana kita ketahui, masyarakat Indonesia tidak hidup pada satu pulau saja. Melainkan tersebar di seluruh kepulauan Indonesia dari Sabang sampai Merauke. Kemudahan akses komunikasi antar masyarakat secara tidak langsung akan mempererat jalinan simpul kebersamaan yang terwujud dalam meningkatnya rasa persatuan dan kesatuan masyarakat Indonesia.

Itu baru secara sosial, harapan dari terbangunnya ekonomi masyarakat sebagai dampak turunnya tarif telekomunikasi pun tidak sedikit. Dampak turunnya tarif telekomunikasi pada kehidupan ekonomi masyarakat Indonesia saat ini mulai terasa. Hal ini dapat terlihat dari berkembangnya industri kreatif (baca: agen penjualan pulsa), hampir tidak ada ruas jalan yang tidak terdapat konter agen penjual pulsa. Tidak terbatas itu, dengan tarif yang murah tentu pengembangan usaha kecil dan menengah berbasis masyarakat tidak akan lagi terhambat akibat kurangnya komunikasi antar pengusaha. Terlebih jika usaha yang dibangun berada diberbagai kota juga provinsi.

Namun demikian, dampak dari turunnya tarif telekomunikasi tidak serta merta membuat kesadaran masyarakat menjadi dewasa dalam menggunakan alat komunikasi as it. Kenyataan yang ada adalah, masyarakat semakin konsumtif dalam pemakaian pulsa untuk hal-hal yang kurang perlu. Akhirnya, ada pengalihan prioritas penggunaan uang yang sedianya untuk kebutuhan makan sehari-hari hanya dihabiskan untuk ongkos telekomunikasi pribadi yang sebenarnya tidak penting-penting amat bagi masyarakat, terutama masyarakat kecil.

Bahkan secara sosial, akhirnya kebablasan meniadakan norma dan nilai yang terbangun di masyarakat selama ini. Sebagai contoh, tarif yang murah membuat seseorang lebih memilih melakukan panggilan telepon kapan saja, dimana saja dan pada siapa saja.

Bayangkan anda tak lagi harus pikir-pikir untuk menelepon siapa saja, pada waktu kapan saja dan dimana saja anda berada, tanpa memperhatikan siapa yang anda kontak, sedang apa orang yang anda kontak, juga keberadaan orang yang sedang anda kontak. Silakan cari contoh ekstrimnya, tapi secara sosial dampaknya kurang baik.

Lebih jauh, tarif telekomunikasi yang murah memberikan tren baru bahwa “gak nelepon, gak gaya”. Di tempat-tempat umum (baca: halte, kendaraan umum, rumah sakit, dsb) misalnya, orang dengan seenaknya mengangkat telepon dan berbicara dengan volume yang keras. Tentu hal ini akan mengganggu orang-orang di sekitar tempat tersebut.

Akhirnya, dampak turunnya tarif telekomunikasi bagi masyarakat umum terutama bagi pengguna telepon selular secara sosial dan ekonomi memerlukan edukasi yang lebih baik lagi dari berbagai pihak. Setidaknya dari pemerintah, operator telekomunikasi dan dari para edukator di ranah tanggung jawab masing-masing.

Pemerintah dipandang perlu menyiapkan regulasi matang tentang penggunaan alat telekomunikasi di tempat-tempat umum. Begitupun operator, memberikan edukasi tentang penggunaan alat telekomunikasi secara bijaksana dan didukung oleh para edukator (baca: orang tua, guru, dsb) yang berhadapan langsung dengan masyarakat agar mengarahkan penggunaan alat telekomunikasi dengan mengindahkan norma dan nilai di masyarakat.

Ditulis oleh Muhammad Rijal ARS untuk mengikuti Lomba Karya Tulis XL Award 2008.

Tema “Turunnya tarif telekomunikasi terhadap kehidupan sosial dan ekonomi masyarakat Indonesia”.

Kategori umum, media blog/online
https://rijal28.wordpress.com/2008/12/30/cerita-turunnya-tarif-telekomunikasi/

0 Responses to “Cerita Turunnya Tarif Telekomunikasi”



  1. Tinggalkan sebuah Komentar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




Quote of The Day

Just because you can’t do everything doesn’t mean you shouldn’t do something.
(Earl Nightengale)
Visit Zenk's Life

Nyang Gi Baca Cerita

web stats

Kategori Cerita

Cerita Lama

Cerita Stats

  • 637,137 Orang-orang Baik

%d blogger menyukai ini: