Cerita Fatwa MUI: Golput Haram

Dahulu, pemilihan langsung oleh rakyat terhadap para wakil rakyatnya merupakan suatu mimpi dan angan-angan. 32 tahun dalam era diktator Soeharto yang berakhir oleh gerakan reformasi rakyat dan mahasiswa Indonesia sepuluh tahun silam.

Memilih kucing dalam karung, itulah ibarat pemilihan umum sebelum tahun 2004. Dan kini, lima tahun berlalu. Para wakil rakyat hasil pemilu 2004 yang dipilih langsung oleh para konstituennya yang notabene rakyat dan masyarakat Indonesia dari masing-masing daerah pemilihan (dapil) ternyata belum sesuai harapan. Pertanyannya yang muncul, apakah rakyat salah memilih, ataukah wakil rakyatnya yang memang tidak dapat dipercaya?

Haram hukumnya memilih pemimpin yang tidak amanah adalah sesuatu yang tak perlu lagi disepakati. Karena Rasullah SAW sudah menganjurkan untuk menjadikan orang-orang beriman dan bertakwa sebagai pemimpin. Artinya, pilihlah orang-orang yang baik iman dan ketakwaannya sebagai suatu kriteria utama.

Jika ini permasalahannya, maka bukan fatwa haram untuk golput alias tidak memberikan suara pada pemilu 2009 mendatang solusinya. Karena itu bukan solusi terbaik yang bisa diberikan MUI. Fatwa haram hanya akan menimbulkan resistansi masyarakat yang terlanjur kecewa dengan pemerintahan SBY-JK juga para anggota dewan perwakilan rakyat yang terlampau banyak menampilkan contoh-contoh perilaku buruk, busuk dan terkutuk kepada masyarakat Indonesia. Selain itu menambah panjang ketidakberesan fatwa-fatwa MUI selama ini. Entahlah.

Solusi yang semestinya bisa ditawarkan oleh MUI selain fatwa haram golput untuk permasalahan yang pertama adalah pencerdasan calon pemilih. Pencerdasan tentang kriteria-kriteria pemimpin yang shaleh, beriman dan bertakwa pada Allah SWT. Inilah yang sepatutnya dilakukan MUI sebagai garda bangsa dalam bidang moral dan agama.

Urusan haram golput bukan urusan surga dan neraka. Tetapi lebih kemashlahatan hidup masyarakat dan bangsa Indonesia secara umum. Karena pemimpin Indonesia selama 5 tahun ke depan ditentukan oleh pemilu 2009. Paling tidak begitulah prosedurial yang dipaparkan UU sebagai landasan hukum Indonesia tercinta ini.

Golput yang diiringi kesadaran tentu ideal, tapi lebih ideal lagi adalah ikut berpartisipasi dalam membangun negeri ini dengan memilih pemimpin yang beriman, bertakwa dan beramal shaleh. Harapannya pemimpin dengan 3 kriteria barusan mampu memperbaiki kondisi bangsa dan negara Indonesia ke arah yang jauh lebih baik dalam beberapa waktu ke depan.

Kita rindu pemimpin sekaliber Soekarno dengan visinya menjadikan Indonesia negara maju, pemimpin secermat Moh. Hatta yang begitu memperhatikan ekonomi rakyat kecil, pemimpin seteladan M. Natsir yang memimpin dengan kebersahajaan hidup, pemimpin seperti B.J. Habibie yang memimpin dengan kecerdasannya, mereka-mereka yang telah terjun langsung di pemerintahan dan berbuat banyak untuk bangsa ini. Nama terakhir saya sertakan karena beliau merupakan sosok intelektual yang rela meninggalkan kekayaan pribadi demi kemajuan bangsa Indonesia di bidang IPTEK dalam kurun waktu yang tidak sebentar. Silakan lihat di sini.

Hal lain, adalah para faktor ketidakberesan dari wakil rakyat yang ada. Entah dari niatan, konsistensi dan keberpihakan mereka pada masyarakat. Pencalonan pribadi dan mendompleng partai-partai yang ada, itulah realita yang terjadi sekarang. Jarang sekali ada partai yang mengadakan seleksi ketat internal bagi para calon anggota legislatif yang akan mewakili suara rakyat pada setiap pemilu maupun pilkada saat ini. Seharusnya MUI juga memfatwakan haram hukumnya mencalonkan anggota partai yang tidak jujur, tidak adil, tidak konsisten terhadap nilai-nilai (iman dan takwa) agama yang diyakininya, juga bagi yang tidak mengindahkan norma-norma masyarakat dalam berbangsa dan bernegara untuk maju menjadi calon anggota legislatif maupun presiden dan kabinetnya.

Mantap itu. Sehingga tidak ada ketimpangan. Karena sesungguhnya bukan fatwa haram golput yang diperlukan saat ini. Melainkan penerangan, pencerdasan, bahkan jika perlu spesifik. Orangorang yang seperti apa dan jika perlu siapa saja yang dipandang “pantas” alias memiliki kriteria iman dan takwa untuk memimpin dan mewakili rakyat Indonesia yang notabene mayoritas memeluk agama Islam.

Semoga umat muslim juga tidak sekedar menjadi buih dan terbelenggu kebijakan tirani minoritas.

Terus berbagi cerita

7 Responses to “Cerita Fatwa MUI: Golput Haram”


  1. 1 Affan Januari 29, 2009 pukul 2:47 am

    jujur saja..walaupun saya muslim tapi saya kurang setuju dengan fatwa tersebut..
    pasalnya saya tidak tahu siapa yang akan saya pilih, kok rasanya pemilu kali ini ribet banget ya?
    masti contreng ini-itu, calegnya beragam..

    bagaimana jika begini :
    saya adalah warga negara yang memiliki hak untuk memilih dan pilihan saya adalah golput.

    atau saya tetap datang ke TPS, dan mencontreng, tapi saya contreng semua nama celeg2 teresebut?

  2. 2 bangzenk Januari 29, 2009 pukul 6:01 am

    @ Affan,

    itulah mas,
    terlepas dari setuju dan tidak setuju adanya fatwa haram golput yang dibutuhkan masyarakat saat ini bukan fatwa haram golput, melainkan pencerdasan siapa yang pantas dipilih dan tidak.

    jika mas belum tahu yang akan dipilih, saatnya mas juga ikutan melek kondisi bangsa ini. saya yakin, sedikitnya ada orang yang benar-benar peduli dg kemaslahatan masyarakat dan bolehjadi mereka menjadi caleg di daerah mas.

    singkat kata, coba pertimbangkan yang ini.

  3. 3 Nugroho Februari 2, 2009 pukul 3:35 am

    Kayaknya banyak golput yang mulai bingung, dan timbul tanya kalau sudah golput dan dipunish haram, apa doa amalan yang harus dijalankan untuk menghapus dosa tersebut. Salam

  4. 4 zauhari Februari 3, 2009 pukul 6:35 am

    Dasarnya itu apa sih kok golput haram ?????????
    Golput kan artinya Golongan Putih…yang artinya secara umum Orang yang punya pendirian yang bersih, kok dibilang haram….aaah MUI ini ada-ada saja. Jack’s

  5. 5 bangzenk Februari 3, 2009 pukul 3:02 pm

    @Nugroho,

    mohon kepada Allah SWT agar diberikan ketetapan hati bahwa yang benar itu benar dan yang salah itu salah.

    @Zauhari,

    Bukan kapasitas aye jawab itu.

  6. 6 ubay Februari 7, 2009 pukul 12:50 pm

    GOLPUT adalah pilihan.
    Kullukum Ro’in wa kullu mas’ulin ‘an ro’iyyatihi sangat berbeda dengan fenomena golput di Indonesia. PKS dengan ideologi wahabinya saja tidak bisa menerjemahkan ISLAM RAHMATAN LIL’ALAMIN, bagaimana ngurusi rakyat dan Haram Golput. memangnya hidup itu cuma Haram dan Halal? bagaimana Sunnah, Makruh dan Syubhat. Islamnya gimana sih PKS? jangan-jangan orientasinya cuma kekuasaan dan merusak Islam Indonesia. harap diketahui bersama bahwa Indonesia adalah negara dengan Muslim terbanyak di dunia, artinya, bagaimana Islam yang besar bisa berdampingan dengan Non Muslim. coba negara lain, siapa yang bisa seperti Indonesia dengan kerukunan dan ke-Bhineka Tunggal Ika-annya. sehingga Amerika dan Nasrani berusaha mengaburkan Islam sesungguhnya yang Rahmatan Lil’alamin. PKS tidak bisa… harus bermadzhab dulu. itu namanya ada kiblat. sholat kiblatnya di Makkah, cara berpikir orang Islam itu ada yang Syafi’i, Hambali, Maliki dan Hanafi. PKS malah ke wahabi siapa imam wahabi itu? Islamnya ko’ lain sendiri? benar kata Rosullulah SAW: ” pada zamannya akan muncul fitnah besar. Beliau menunjuk ke arah timur tempat dimana fitnah itu akan muncul ” dalam kitab Fajrul Shodiq, qoul Nabi itu ditafsiri sebagai aliran wahabiyah. pantesan saja PKS begitu…Islam formal, asal Islam tapi hakekatnya penghancuran terhadap Islam itu sendiri. na’udzubillahi min dzalik.

  7. 7 bangzenk Februari 7, 2009 pukul 6:07 pm

    @ubay,

    coba pelajari dulu PKS dengan pandangan yang netral, saya yakin PKS tidak seburuk yang dikira.

    Islam rahmatan lil ‘alamiin, tidak di-kotak-an oleh batas teritori kenegaraan. karena landasan ukhuwah islam adalah keimanan, bung tahu dalilnya. Artinya Islam senantiasa tepat zaman, tepat wilayah.

    Wallahu a’lam bishshawab.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




Quote of The Day

Just because you can’t do everything doesn’t mean you shouldn’t do something.
(Earl Nightengale)
Visit Zenk's Life

Nyang Gi Baca Cerita

web stats

Kategori Cerita

Cerita Lama

Cerita Stats

  • 636,712 Orang-orang Baik

%d blogger menyukai ini: